Zakat Solusi Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

Sudayat Kosasih

Pegiat Lembaga Zakat Nasional

@ dayatkosasih2015@gmail.com

Kisah sukses Subur (29) pengusaha muda asal Gunung Kidul, Yogyakarta membuktikan bahwa zakat dapat menjadi solusi untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Dengan modal Rp 400 ribu, Subur bersama rekan-rekannya mencoba menjalani usaha pertamanya dengan membuka bisnis Es Pisang Ijo. Di awal menjalankan usahanya, Subur hanya memiliki satu gerobak untuk berjualan Es Pisang Ijo di daerah Gunung Kidul.

Namun, pertemuannya dengan salah seorang teman membukakan jalan bagi Subur dan rekan-rekannya untuk mengembangkan usaha. Temannya tersebut, mengenalkan Subur pada Program Dompet Dhuafa sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional yang konsentrasi pada pengembangan usaha kecil menengah, yakni program Madrasah Ekonomi Mandiri di Yogyakarta.

Dari program tersebut, Subur mendapat tambahan modal sebesar satu juta rupiah. Semangat Subur bersama rekan-rekannya semakin bertambah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menambah satu lagi gerobak es pisang ijo miliknya. Melihat perkembangan usahanya yang semakin membaik, Subur memutuskan menambah kembali gerobaknya.

Kisah sukses lainnya juga seperti Jaka Kurnia (35) seorang mustahik zakat binaan RZ  (Rumah Zakat) di Bogor, Jawa Barat. Dengan 1 istri dan 2 orang anak mempunyai kisah tersendiri dari kesuksesannya membangun bisnis kuliner khas arab “Samosa Jiddah” hingga kini. Berawal dari bantuan seorang donatur RZ, perkembangan usaha Jaka terus membaik.

Bantuan tersebut berupa modal usaha dan saran usaha serta barang-barang lainnya yang menunjang kegiatan produksi. Proses produksi dilakukan secara manual di rumah kontrakannya, dengan dibantu oleh keluarganya. Begitu juga proses pemasarannya masih menggunakan gerobak keliling.

Diawal usaha, dia hanya mampu menjual sekitar 20 buah perharinya. Setelah adanya bantuan dari RZ dan juga mendapatkan pembinaan serta pendampingan rutin, kini hasil produksi dan pemasaran berkembang cukup signifikan.

Dalam sehari, Jaka mampu memproduksi 100 buah Samosa. Selain itu, ia juga menitipkan ke beberapa kantin sekolah disekitar kediamannya. Bahkan, beberapa hari ini ia sempat kewalahan karena menerima orderan produk sebanyak 2.000 sampai dengan 4.000 pcs hingga semua keluarganya turut membantu.

Kehadiran Lembaga Zakat menjadi sangat penting di tengah-tengah masyarakat.  Sebab kehadirannya sangat diharapkan menjadi solusi dalam mengentaskan kemiskinan. Zakat memiliki peran yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, baik dalam kehidupan muslim maupun kehidupan lainnya.

Masyarakat awam hanya mengetahui bahwasanya tujuan dari zakat adalah mengentaskan kemiskinan dan juga membantu para fakir miskin, tanpa mengetahui gambarannya secara gamblang. Peranan zakat tidak hanya terbatas pada pengentasan kemiskinan. Akan tetapi bertujuan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan masyarakat lainnya. Al-Qur’an mengisyaratkan agar zakat, infak dan sedekah dikelola secara profesional.  Hal ini dapat dipahami dari keterangan Al-Qur’an yang menghargai jasa para amil sehingga mereka ditetapkan sebagai salah satu dari delapan ashnaf (golongan) yang berhak memperoleh pembagian zakat.

Jika prinsip ini dapat dijalankan maka harta yang dikumpulkan melalui zakat dapat menjadi produktif, dapat menciptkan lapangan kerja, membantu peningkatan kualitas SDM secara terencana, ikut mengembangkan usaha yang baik dari sudut pandang agama, dan lainnya. Singkatnya, banyak manfaat yang dapat diraih dari dana zakat yang dikelola secara amanah dan profesional.

Islam memandang kemiskinan merupakan suatu hal yang mampu membahayakan akidah, akhlak, kelogisan berpikir, keluarga dan juga masyarakat. Islam pun menganggapnya sebagai musibah yang harus segera ditanggulangi. Maka dari itu setiap umat Islam didorong untuk menjadi pembayar zakat. Artinya, setiap orang diharapkan dapat mengambil bagian dalam penanggulangan kemiskinan. Harapan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu maupun kepada penyandang kemiskinan itu sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat dari penerapan kewajiban zakat fitrah. Kewajiban tersebut juga diberlakukan bagi orang miskin jika pada malam hari menjelang Idul Fitri ia mempunyai kelebihan bahan makanan. Hal ini mencerminkan kebersamaan di dalam mengatasi persoalan kemiskinan. Tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan harus dijabarkan dan diimplementasikan dalam kehidupan ekonomi.

Berdasarkan prinsip tersebut umat Islam diharapkan saling mendukung sehingga usaha-usaha di bidang ekonomi yang dijalankan mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang keras dan bebas. Prinsip ini menjadi semakin penting ketika usaha-usaha yang dijalankan oleh umat masih lemah dan belum mampu bersaing karena berbagai keterbatasan. Dukungan tersebut antara lain dengan memilih produk yang dihasilkan dan memanfaatkan jasa yang ditawarkan serta mendukung terciptanya jaringan bisnis yang kuat dan luas. Pola hidup yang hemat dan sederhana sangat diperlukan untuk menanggulangi kemiskinan.

Pola hidup seperti itu diharapkan tumbuh di kalangan semua warga masyarakat, terutama orang kaya atau berpenghasilan tinggi. Kesenjangan antara kaya dan miskin dalam masyarakat dewasa ini cukup menonjol. Kesenjangan tersebut dapat dipersempit dengan mendorong peningkatan amal sosial di kalangan orang kaya dan menjauhkan perilaku boros.

Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dalam diri setiap muslim tertanam kewajiban untuk menegakkan pilar Agama Islam yang salah satunya adalah zakat. Zakat adalah satu dari kesekian ajaran sosial Islam yang berorientasi pada kemaslahatan kamanusiaan. Suatu bentuk ibadah Maaliyah Ijtimaiyyah yang memiliki posisi yang sangat stategis dalam program penguatan kaum dhuafa.

Potensi zakat di Indonesia sangat besar. Jika digali dan dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel, jumlahnya mencapai ratusan triliun. Pada 2011, jumlahnya mencapai Rp 217 Triliun (setara dengan 3,4% dari PDB). Potensi sebesar itu bersumber dari zakat individual (rumah tangga) sebesar Rp 117 Triliun dan Rp 100 Triliun dari perusahaan.  Sedangkan pada 2014, BAZNAS menyebutkan jumlahnya semakin meningkat menjadi Rp 274 Triliun.

Agar seseorang dapat menunaikan zakatnya untuk mengentaskan kemiskinan, maka perlu diketahui penyebab kemiskinan terhadap individu atau kemiskinan yang terjadi pada satu kelompok masyarakat. Setiap penyebab kemiskinan diobati dengan formula yang berbeda-beda, meliputi:

Pertama; kemiskinan yang disebabkan oleh kelemahan fisik yang menjadi penghalang dirinya dalam mendapatkan penghasilan yang besar. Kedua; kemiskinan juga bisa disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mencari pekerjaan, karena ditutupnya pintu-pintu yang halal sesuai dengan keadaan para fakir miskin tersebut. Ketiga;  kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya pendapatan yang ia peroleh untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sekalipun ia mempunyai penghasilan tetap.

Untuk mengoptimalkan peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan, maka terdapat ketentuan kadar zakat yang dikeluarkan untuk fakir miskin. Menurut  Imam Ghazali menyebutkan tiga pendapat dalam permasalahan ini, meliputi: memberikan fakir miskin sejumlah nishab zakat, memberikan fakir miskin kebutuhannya selama setahun, dan memberikan fakir miskin kebutuhan selama sisa hidupnya. Di Indonesia apakah kriteria tersebut yang benar-benar menjadi sasaran zakat. []

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *