lazdau-Patah Hati Terhebat 16 Jun, 2020

Patah Hati Terhebat

“Terima kasih sudah ikhlas membesarkanku dan memberiku kasih sayang. Tapi rasanya sangat kurang adil sekaligus ingin marah, ketika engkau pergi secara tiba-tiba.”

Pasti setiap anak perempuan yang terlahir ke dunia memiliki sosok laki-laki pertama yang paling dicintanya. Mereka memanggilnya dengan sebutan “Ayah”. Dia adalah orang pertama memelukmu dengan erat sekaligus memberimu kasih sayang selayaknya orang tua pada umumnya. Seiring pertumbuhan dan perkembanganmu, ia mulai protektif untuk melindungi putra-putrinya.

Tak jarang, bahkan ia terkadang lebih diktator daripada seorang ibu yang penuh dengan kelembutan. Banyak anak perempuan menganggap itu sebagai hal menyebalkan, di mana ada saatnya kita ingin merasakan juga makna kebebasan. Tak perlu ditunggu saat akan pulang malam dari biasanya, tidak perlu dibatasi untuk ikut kegiatan ekstrakulikuler dan sebagainya.

Namun percayalah saat merasa betapa menyebalkannya aturan dari seorang ayah, maka di luar sana juga ada banyak anak perempuan yang justru mencari sosok sang tulang punggung keluarga yang abu-abu di kehidupannya. Dan perasaan itulah yang sekarang dirasakan oleh Ariani Nur Hamdiah, salah satu binaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU).

Dia begitu panggilan akrabnya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. 15 tahun yang lalu ketika masih ada sang tulang punggung keluarga, ia begitu sangat dimanja. Apapun yang dia minta, pasti Sang Ayah akan memberikannya secara cuma-cuma. Walaupun harus dengan susah payah, terpenting anak perempuannya selalu bisa tersenyum bahagia.

Namun itu dulu, ketika ayahnya masih dalam keadaan sehat dan masih berada di dunia. Tepat empat tahun yang lalu, sang tulang punggung keluarga pergi secara tiba-tiba ketika waktu bulan puasa. Ibarat kita diguyur air es, seperti itulah dulu waktu dia melihat sang malaikat sudah terbujur kaku di atas dipan ruang keluarga.

“Bapak waktu itu perginya tiba-tiba, kaget, rasanya seperti mimpi ketika melihatnya sudah tidur di atas dipan. Sudah aku goyang-goyang dan menyuruhnya untuk bangun, tapi beliau tidak mau. Malah tetap menutup matanya. Rasanya aku sangat menyesal, belum sempat berbakti kepadanya,” tuturnya sambil menangis ketika mengingatnya.

Kalau di tanya mengenai rindu atau tidaknya ia kepada Sang Ayah, pasti kita bisa melihatnya di lemari bajunya. Karena ada di salah satu sudutnya terpajang fotonya bersama sang malaikat tak bersayap. Katanya jika rasa kangen itu datang, dia bisa langsung melihat dan mengenang pada masa itu. Bukan hanya itu saja, ia ingin sekali mengulang dan menjadi anak baik sekaligus penurut untuk orang tuanya.

Banyak sekali cara yang dulu pernah ia coba, untuk mengalihkan pikirannya agar tidak teringat kepada sosoknya. Sampai saat ini dia sudah duduk di bangku kelas XI di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Surabaya dan cara mengalihkannya dengan menyibukkan diri mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, yakni Paskibraka. Walaupun niatnya hanya agar tidak teringat sosok ayahnya, tetapi dari situlah prestasi non akademiknya muncul dan mulai berkembang.

“Dia dari mulai kelas satu sudah ikut ekstrakulikuler Paskibra. Alhamdulillah, sudah ada empat prestasi yang dari angkatanku mempersembahkan juara untuk sekolah. Walaupun ekstrakulikuler ini biasa saja, namun kesibukannya yang membuatku jadi merasa nyaman sekaligus luar biasa. Tak masalah, bagiku ini semua hanya sebagai penghibur diriku, karena kehilangan kasih sayang seorang ayah,” ucapnya sambil mencoba tersenyum.

Kehilangan memang begitu menyakitkan, tetapi ada hikmah di balik itu semua. Karena dengan ujian yang diberikan oleh Sang Pencipta, bisa mengajarkan berpikir lebih dewasa dan menghargai sekaligus menyayangi dengan tulus orang yang ada disekitar kita.

“Terima kasih sudah ikhlas membesarkanku dan memberiku kasih sayang. Tapi rasanya sangat kurang adil sekaligus ingin marah, ketika engkau pergi secara tiba-tiba.”

Pasti setiap anak perempuan yang terlahir ke dunia memiliki sosok laki-laki pertama yang paling dicintanya. Mereka memanggilnya dengan sebutan “Ayah”. Dia adalah orang pertama memelukmu dengan erat sekaligus memberimu kasih sayang selayaknya orang tua pada umumnya. Seiring pertumbuhan dan perkembanganmu, ia mulai protektif untuk melindungi putra-putrinya.

Tak jarang, bahkan ia terkadang lebih diktator daripada seorang ibu yang penuh dengan kelembutan. Banyak anak perempuan menganggap itu sebagai hal menyebalkan, di mana ada saatnya kita ingin merasakan juga makna kebebasan. Tak perlu ditunggu saat akan pulang malam dari biasanya, tidak perlu dibatasi untuk ikut kegiatan ekstrakulikuler dan sebagainya.

Namun percayalah saat merasa betapa menyebalkannya aturan dari seorang ayah, maka di luar sana juga ada banyak anak perempuan yang justru mencari sosok sang tulang punggung keluarga yang abu-abu di kehidupannya. Dan perasaan itulah yang sekarang dirasakan oleh Ariani Nur Hamdiah, salah satu binaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU).

Dia begitu panggilan akrabnya, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. 15 tahun yang lalu ketika masih ada sang tulang punggung keluarga, ia begitu sangat dimanja. Apapun yang dia minta, pasti Sang Ayah akan memberikannya secara cuma-cuma. Walaupun harus dengan susah payah, terpenting anak perempuannya selalu bisa tersenyum bahagia.

Namun itu dulu, ketika ayahnya masih dalam keadaan sehat dan masih berada di dunia. Tepat empat tahun yang lalu, sang tulang punggung keluarga pergi secara tiba-tiba ketika waktu bulan puasa. Ibarat kita diguyur air es, seperti itulah dulu waktu dia melihat sang malaikat sudah terbujur kaku di atas dipan ruang keluarga.

“Bapak waktu itu perginya tiba-tiba, kaget, rasanya seperti mimpi ketika melihatnya sudah tidur di atas dipan. Sudah aku goyang-goyang dan menyuruhnya untuk bangun, tapi beliau tidak mau. Malah tetap menutup matanya. Rasanya aku sangat menyesal, belum sempat berbakti kepadanya,” tuturnya sambil menangis ketika mengingatnya.

Kalau di tanya mengenai rindu atau tidaknya ia kepada Sang Ayah, pasti kita bisa melihatnya di lemari bajunya. Karena ada di salah satu sudutnya terpajang fotonya bersama sang malaikat tak bersayap. Katanya jika rasa kangen itu datang, dia bisa langsung melihat dan mengenang pada masa itu. Bukan hanya itu saja, ia ingin sekali mengulang dan menjadi anak baik sekaligus penurut untuk orang tuanya.

Banyak sekali cara yang dulu pernah ia coba, untuk mengalihkan pikirannya agar tidak teringat kepada sosoknya. Sampai saat ini dia sudah duduk di bangku kelas XI di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Surabaya dan cara mengalihkannya dengan menyibukkan diri mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, yakni Paskibraka. Walaupun niatnya hanya agar tidak teringat sosok ayahnya, tetapi dari situlah prestasi non akademiknya muncul dan mulai berkembang.

“Dia dari mulai kelas satu sudah ikut ekstrakulikuler Paskibra. Alhamdulillah, sudah ada empat prestasi yang dari angkatanku mempersembahkan juara untuk sekolah. Walaupun ekstrakulikuler ini biasa saja, namun kesibukannya yang membuatku jadi merasa nyaman sekaligus luar biasa. Tak masalah, bagiku ini semua hanya sebagai penghibur diriku, karena kehilangan kasih sayang seorang ayah,” ucapnya sambil mencoba tersenyum.

Kehilangan memang begitu menyakitkan, tetapi ada hikmah di balik itu semua. Karena dengan ujian yang diberikan oleh Sang Pencipta, bisa mengajarkan berpikir lebih dewasa dan menghargai sekaligus menyayangi dengan tulus orang yang ada disekitar kita. red(slm)

0 Komentar

Leave a comment