lazdau-Banyak Cinta, Satu Cita-cita 07 Sep, 2020

Banyak Cinta, Satu Cita-cita

Menjadi dokter itu memang cita-citaku. Dokter yang selalu membantu warga kurang mampu dan harus ikhlas jika ada panggilan sewaktu-waktu. Walaupun aku dari keluarga sederhana, namun apa salahnya jika cita-citaku setinggi langit di angkasa?

Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak-anak, untuk mendapatkan pendidikan yang bersifat alamiah. Namun sebagai orang tua, kita harus tahu lebih dalam mengenai karakter mereka. Agar mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh si anak, dalam menghadapi situasi belajar. Sehingga dapat menuntun dengan tepat tanpa menyakiti hati sang buah hati tercinta.

Salah satu tujuan dari itu semua untuk mengembangkan semaksimal mungkin kemampuan maupun bakat yang dimiliki oleh anak-anak. Tapi bukan hanya itu saja, dukungan dari orang tua pun sangat penting dan diperlukan bagi mereka dalam mewujudkan keberhasilannya. Inilah yang dirasakan oleh Fatchiah Nurul Himmah.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini merupakan salah satu binaan yang mendapatkan beasiswa dari Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU), melalui Program Senyum Masa Depan (SMP). Saat ini dia sedang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda Sedati-Sidoarjo.

Walaupun dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu, namun urusan kecerdasan boleh diadu. Karena Himmah begitu panggilan akrabnya, merupakan anak yang pandai dan cenderung pendiam. Buktinya saja dari kelas I sampai dengan kelas VI, ia selalu mendapatkan rangking pertama di kelasnya. Begitu pula dengan nilai yang didapatkan, sangat memuaskan sekaligus membanggakan bagi ibu dan ayahnya.

cita cita anak berprestasi

“Alhamdulillah, dari kelas I sampai dengan kelas VI aku mendapatkan peringkat satu terus. Semua itu berkat doa dan dorongan dari ibu dan ayah. Tidak ada seharipun dari mereka, tanpa memberikan semangat kepadaku,” tuturnya sambil tersipu malu.

Masih teringat jelas dalam memorinya waktu pertama kali ia mendapatkan peringkat pertama di kelasnya, tiba-tiba saja sepulang sekolah ia diberikan hadiah oleh kedua orang tuanya. Walaupun hanya berupa barang sederhana yang harganya tak seberapa, tapi bagi dia itu semua sangat bermakna dan membahagiakan.

Namun bukan hanya prestasi di bidang akademik saja yang didapatkan oleh gadis kelahiran Kediri ini, ia juga berhasil menorehkan prestasi di bidang non akademik dengan mendapatkan Juara I Lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Sedati-Sidoarjo.

Padahal waktu itu Himmah sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Bukan karena tidak bisa, tetapi penampilan peserta lainnya membuat ia mulai ragu. Namun dengan sabar gurunya memberikan semangat kepadanya, ditambah sosok kedua orang tua yang tak ada hentinya terus mendoakan dirinya.

Kalau ditanya mengenai cita-cita pasti semua anak memilikinya, termasuk Himmah. Menjadi dokter adalah impian yang ingin diwujudkannya. Dokter yang selalu bisa mengobati tanpa ada rasa pamrih bagi warga yang kurang mampu, dan selalu ada jika di butuhkan sewaktu-waktu.

Itulah yang menjadi impiannya saat ini. Walaupun sangat susah, namun apa salahnya jika ia memimpikannya? Bukankah Allah itu akan mewujudkan apa yang diharapkan oleh hamba-Nya, jika dia mau berusaha dan terus berdoa kepada-Nya? Semoga kelak apa yang dicita-citakan oleh Himmah bisa terwujud dan membantu masyarakat di sekitarnya. red(slm)

0 Komentar

Leave a comment