lazdau-BERUBAHLAH 03 Nov, 2021

BERUBAHLAH

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu komunitas sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar ra’d [13]: 11)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan dan kemurahan-Nya. Ayat ini menunjukkan lanjutan kemurahan Allah itu, yaitu Ia mengutus empat malaikat untuk menjaga keselamatan manusia, dan Allah juga memberi pertolongan kepada manusia yang berkemauan merubah nasibnya.

Hampir pada setiap waktu dan tempat, manusia menghadapi ancaman bahaya. Bisa saja, makanan lezat yang dikonsumsi membawa kematiannya, disebabkan kuman dan bakteri yang membahayakan, di luar dugaan, ikut masuk ke dalam perutnya. Bisa juga malapetaka terjadi ketika seseorang tidur nyanyak di atas kasur empuknya. Lalu, gempa dahsyat merobohkan rumah dan menggencet semua anggota keluarganya. Di jalan raya, di tempat kerja, di tempat rekreasi, dan di mana pun, selalu ada ancaman bahaya. Untuk menjaga Anda dari bahaya itu, Allah mengutus dua malaikat di depan dan di belakang Anda pada siang hari, dan dua lainnya pada malam hari. Empat malaikat itulah yang disebut Mu’aqqibat dalam ayat ini.

Dengan penjagaan malaikat pengawal itu, seringkali terjadi keajaiban yang disebut ‘inayatullah, yaitu pertolongan Allah di luar nalar manusia. Sedangkan kejadian yang sesuai dengan nalar manusia disebut sunnatullah. Misalnya, ketika seseorang tertubruk mobil dan meninggal di tempat, maka inilah sunnatullah. Tapi, jika ia tertubruk dan terlempar ke sungai, sehingga masih hidup, dan hanya patah tulang, maka itulah ‘inayatullah. Ia dilemparkan malaikat atas perintah ke sungai, sebab Allah masih menghendaki tambahan umur baginya. Tapi, kadangkala Allah melarang dua malaikat itu memberi perlindungan, jika Allah memang menghendaki yang bersangkutan meninggal saat itu.

Dalam ayat ini, sacara tersirat, Allah menunggu perubahan apa yang kita lakukan, sebelum Allah menentukan takdir-Nya. Jika Anda ingin mendapat kakayaan, maka Allah menunggu, apakah mindset dan cara kerja Anda sudah berubah. Jika cara berpikir dan pola kerja Anda tetap seperti semula, maka secara sunnatullah, tidak akan perubahan pada ekonomi Anda.

Ketika Anda mengharapkan jodoh, Allah juga menunggu apakah sikap Anda  masih tetap, tak berubah, yaitu melihat orang hanya pada kekurangannya? Allah juga menunggu apakah akhlak Anda yang tercela, bahkan berbicara yang selalu menyakitkan hati orang itu masih berlanjut, ataukah sudah berubah menjadi orang yang lembut dan terpuji. Jika tidak, maka Allah juga tidak akan merubah keadaan masa depan Anda.

Dalam lingkungan keluarga, Allah juga menunggu perubahan sikap Anda terhadap istri, ketika Anda mengharapkannya berubah menjadi istri yang lebih terpuji. Jika Anda tetap kasar, atau, misalnya, merahasiakan banyak hal, sampai mengharamkan istri membuka HP Anda, atau hal-hal lain yang seringkali menjengkelkan istri, tetap saja, tak berubah sama sekali, maka Allah juga tidak akan merubah istri sesuai harapan Anda. Mulailah merubah diri sendiri, sebelum mengharap orang lain berubah.

Kita selalu memohon kebahagiaan dunia akhirat. Maka, sekali lagi, Allah menunggu perubahan kita dalam menyikapi kehidupan. Jika kita terus mengeluh, kurang bersyukur, dan kikir sedekah untuk membahagiakan orang, maka Allah terus menunggu perubahan kita sebelum Allah membuat keputusan tentang diri kita.   

Kata “kaum” atau “komunitas” dan “mereka” pada ayat ini mengisyaratkan, bahwa perubahan bisa terjadi jika didukung banyak pihak. Ayat ini secara tidak langsung membenarkan kepemimpinan SAW. Sekalipun, ia bisa saja langsung meminta petunjuk Allah tentang langkah-langkah perjuangan membangun masyarakat, tapi ia selalu berkonsultasi atau mencari dukungan dari para sahabat seniornya, terutama Abu Bakar As Shiddiq ra., Umar bin Khattab r.a., Usman bin Affan r.a, dan Ali bin Abi Thalib, r.a. Perubahan tidak bisa dilakukan Nabi SAW seorang diri.

Perlunya kebersamaan itu juga tersirat dalam kata “kami” pada surat Al Fatihah ayat 6, “Tunjukkan “kami” jalan yang lurus.” Bukan, “Tunjukkan “saya” jalan yang lurus.” Dengan terjemahan bebas, melali QS Al Fatihah ayat 6 ini, kita memohon, “Wahai Allah, jadikan kami sekeluarga bahu-membahu untuk menjadi manusia yang terbaik.”

Tidak hanya itu, kebersamaan itu diisyaratkan juga dalam doa tasyahud, “Assalaamu ‘alainaa ‘wa’alaa ‘ibaadillaahis shaalihin.” (Wahai Allah, berikan kami keselamatan bersama semua hamba-Mu yang saleh.” Melalui doa ini, kita bertekad untuk bergandengan tangan dengan semua orang-orang saleh menuju kemuliaan, baik yang masih hidup, maupun yang telah wafat dengan doa.

Mulai hari ini, setiap bangun pagi, bersumpahlah untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, minimal untuk hari itu. Yakinlah, Allah akan memberi takdir terbaik setelah mendengar tekad dan sumpah perubahan kita itu.

1 Komentar

  • imam
    03-Nov,2021 14:54

    sangat bagus

Leave a comment