lazdau-Cita-cita Seperti Ayah 16 Jul, 2020

Cita-cita Seperti Ayah

“Tak ada salahnya kan, jika mempunyai cita-cita seperti Ayah. Walaupun harus penuh dengan perjuangan dan usaha, pasti  kami berdua akan melakukannya. Niat kami hanya satu, membuatnya bangga kepada anak-anaknya.”

Banyak orang yang berpendapat bahwa anak merupakan tanggung jawab ibu karena ayah sibuk mencari nafkah. Coba anggapan itu kita pertimbangkan lagi. Sebab, absennya kehadiran sang tulang punggung keluarga dalam proses pendidikan sang buah hati terbukti akan memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan mereka.

Ada sesuatu yang khusus dari keberadaan serta keterlibatan seorang ayah dalam kehidupan seorang anak. Seperti yang kita ketahui, bahwa anak-anak cepat sekali meniru segala hal dilakukan oleh orang tuanya baik dan juga buruknya.

Bila sang buah hati tumbuh dalam kondisi kekurangan kasih sayang sang tulung punggung keluarga, pasti akan mengalami ketimpangan dalam memahami peran orang tua yang utuh. Mereka tidak memperoleh kesempatan untuk belajar dan mengalami kasih sayang, pengasuhan ataupun pendampingan dari figure ayah. Bukan hanya itu saja, pasti juga cenderung memiliki kebutuhan afeksi yang lebih besar, karena ada bagian dalam dirinya terasa tidak lengkap.

Dan rasa inilah yang dirasakan oleh Dimitri Rafa Dzakwan dan Abi Sekha Kun Akbar, santri Panti Asuhan Istiqomah binaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU). Rafa dan Raka begitulah panggilan akrabnya, merupakan kakak beradik yang harus ikhlas tinggal di panti asuhan. Bukan karena orang tuanya tak sayang kepada mereka, namun kondisi orang tuanya yang telah bercerailah mengharuskan mereka untuk berada di sana.

Benar kata orang, kalau ketika orang tua bercerai anak-anaklah yang menjadi korban dan tanpa sadar kita telah menyakiti hati mereka. Namun Rafa dan Raka merupakan anak yang hebat sekaligus kuat, ketika sang malaikat tak bersayap mengajaknya untuk tinggal dan menetap sementara di panti asuhan.

“Ibu pernah bilang, nanti kalau ibu sudah punya uang kamu dan adikmu akan dijemput pulang. Nanti kita tinggal serumah dan bersama-sama lagi dengan kakak dan adik kalian. Pokoknya  yang sabar ya,” ucap Rafa sambil menyeka air matanya.

Kalau ditanya lebih kangen papa atau mama, pasti mereka akan kompak menjawab nama papanya. Hanya setahun sekali di Hari Raya Idul Fitri, momen mereka untuk ketemu dengannya. Bukan karena tak ingin berjumpa dengan sang buah hati tercinta, namun jarak tempat tinggallah yang menjadi penyebab mereka untuk membelenggu rindu yang begitu sangat menyesakkan.

Banyak sekali momen yang masih Raka dan Rafa ingat ketika berjumpa dan bertemu dengan sang papa, mulai dari makan bersama hingga bermain sepak bola dengan sang legenda. Ya, ayah mereka merupakan salah satu legenda pemain kebanggaan Kota Pahlawan dan tak heran jika mereka berdua mempunyai bakat bermain sepak bola.

“Kalau Rafa dan Raka bertemu dengan papa, pasti yang paling ditunggu-tunggu itu ya waktu bermain sepak bola. Jujur, rasanya senang banget diajari papa. Meskipun disuruh lari-lari dan terkena terik matahari, bagi kami tak masalah. Asal latihannya bersama papa, itu semua sudah membuat kami menjadi bahagia,” tutur Raka sambil tersenyum ketika mengingatnya.

Jadi tak ada salahnya, jika mereka berdua saat ini mempunyai mimpi dan keinginan untuk menjadi seorang striker dan kipper. Doakan mereka terus, agar semua itu bisa menjadi kenyataan sekaligus dapat membanggakan sang papa. (naskah dan foto: salama).

0 Komentar

Leave a comment