lazdau-DAKWAH TAUHID DI INDONESIA 08 Jun, 2021

DAKWAH TAUHID DI INDONESIA

Acara membaca do’a bersama yang sudah mentradisi itu, dinamai acara tahlilan. Kata “tahlilan” mempunyai kata dasar “tahlil” dengan akhiran “an”, yang bisa diartikan dengan kegiatan membaca tahlil, yakni bacaan Laa ilaaha illallah.

Namun demikian, yang dibaca pada saat acara tahlilan tidak hanya bacaan itu saja, tetapi juga kalimat thayyibah lainnya seperti tasbih, tahmid, takbir, juga shalawat, bacaan al-Qur’an dan do’a-do’a. Hal yang patut dicermati, yang dipilih untuk dijadikan nama adalah tahlilan, bukan fatihahan misalnya, atau shalawatan, atau tashbihan dan sebagainya.

Pemilihan nama dengan tahlilan tampaknya bukan tanpa sengaja, namun mengandung misi dakwah yakni menyampaikan misi tauhid dan itulah sebenarnya inti dakwah. Kalimat tahlil adalah kalimat tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Kalimat tauhid adalah inti dari syahadat.

Saat ini ada diskusi soal Islam Nusantara dikaitkan dengan dakwah para wali seolah-olah suatu hal yang lain. Dakwah para wali dan para penyiar Islam di Indonesia tak lain adalah dakwah menyiarkan agama tauhid. Berkat dakwah yang dilakukannya itu, akhirnya Islam yang asalnya tidak ada penganutnya, menjadi agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk di wilayah ini.

Sebelum Islam datang, penduduk di bumi Nusantara tidak mengenal tauhid. Sebagian mereka menganut Animisme dan Dinamisme. Agama Hindu dan Budha pernah berkuasa cukup lama, mulai Kutai, Tarumanegara sampai Majapahit. Buku-buku dari India pun dipelajari dan disadur isinya oleh para pujangga kuno seperti Empu Sedah yang menggubah Bharatayuddha dan Empu Kanwa yang menulis Arjunawiwaha. Dari buku-buku ini berkembang cerita pewayangan dalam masyarakat.

Para wali memanfaatkan cerita wayang sebagai media dakwah. Kisah kepahlawanan dan kekesatriaan tokoh-tokohnya dipertahankan tetapi beberapa isinya didekonstruksi dan disisipi dengan misi tauhid. Maka dalam cerita pewayangan Jawa mengenal Jamus Kalimasada kitab yang sekaligus senjata yang dimiliki oleh Puntadewa atau Yudistira.

Kalimasada ini yang diambil dari kalimat syahadat merupakan pusaka tertinggi. Tentu karena dua kalimat syahadat adalah pintu masuk bagi seseorang ke dalam agama Islam, agama Tauhid.

Dalam pewayangan asli yang bersumber dari Mahabarata ada kisah Drupadi yang bersuamikan lima orang Pandawa. Dalam kisah wayang Jawa hal ini ditiadakan. Kisah wayang Jawa menempatkan Drupadi sebagai istri Yudistisa saja.

Jadi, inilah misi dakwah para wali, menyiarkan agama tauhid di bumi Nusantara. 

Oleh : H. Ainul Yaqin, M.Si., Ketua MUI Prov. Jatim

 

0 Komentar

Leave a comment