lazdau-Jangan Menjadi Pembuat dan Penyebar Hoax! 17 Jun, 2021

Jangan Menjadi Pembuat dan Penyebar Hoax!

            Hoax adalah berita bohong, informasi palsu atau fakta yang diplintir / direkayasa untuk berbagai tujuan. Maka, menyedihkan sekali, sebab seiring dengan semakin berkembangnya teknologi-terutama di bidang informasi-tebaran hoax semakin sering terjadi. Terkait ini, kita harus berhati-hati, sebab sekelas istri Nabi Muhammad Saw–yaitu Aisyah Ra-pernah menjadi korban hoax yang kejam itu.   

 

Masalah Berat

Membuat dan menebar hoax itu perilaku yang sangat tercela. Bahkan, dulu, serangkaian ayat turun untuk meluruskan berita bohong yang hampir merusak keharmonisan rumah-tangga Rasulullah Saw.

Alkisah, di sebuah perang, Aisyah Ra mendapat giliran menyertai Nabi Saw. Pulang dari perang, menjelang masuk Madinah, hari-pun berganti malam. Nabi Saw meminta rombongan beristirahat sebentar. Aisyah Ra memanfaatkannya untuk buang air. Ia-pun keluar dari tandu yang membawanya. Setelah selesai, dia kembali ke rombongan dan tersadar jika kalungnya hilang.

Bergegas dia mencari kalung. Cukup lama dia mencari, sebelum akhirnya ketemu. Sayang sekali, dia ditinggal rombongan karena yang bertugas “mengawal” tandu Aisyah Ra mengira bahwa dia telah berada di dalamnya. Aisyah Ra lalu memilih duduk di tempat perhentian tadi. Oleh karena mengantuk, Aisyah Ra tertidur.

Di esok pagi harinya, Shafwan bin Al-Mu’atthal yang juga tertinggal dari rombongan menemukan Aisyah Ra. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,” seru Shafwan.

Lantaran ucapan Shafwan itu, Aisyah Ra terbangun. Tidak ada kata apapun yang diucapkan Aisyah Ra dan dia pun tak mendengar kalimat apapun dari Shafwan kecuali kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” tadi.

Lalu, Aisyah Ra naik unta dan unta itu dituntun Shafwan. Di siang hari, mereka bertemu rombongan yang sedang berteduh. Kemudian, kedatangan Aisyah Ra yang berdua bersama Shafwan, dikabar-kabarkan dengan nada miring oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sesampai di Madinah, Aisyah Ra sakit sebulan dan selama itu dia tak tahu fitnah yang berhembus di masyarakat. Tapi, dalam sebuah kesempatan, Aisyah Ra secara tak sengaja mendengar desas-desus tentang dirinya. Mendengar itu penyakit Aisyah Ra bertambah-tambah, terlebih setelah dia merasakan “ada yang tak biasa” perlakuan Rasululllah Saw terhadap dirinya.

Aisyah Ra lalu meminta izin pulang ke orang-tuanya, yaitu Abu Bakar Ra. Intinya, dia ingin meminta penjelasan atas fitnah yang beredar. Aisyah Ra-pun menangis panjang saat tahu bahwa Rasulullah Saw juga mendengar “kabar tak sedap” itu.

Mengingat wahyu Allah tak kunjung turun untuk “menjelaskan” masalah tersebut, Rasulullah Saw sempat meminta pendapat Ali bin Abi Thalib Ra dan Usamah bin Zaid Ra. Mereka membicarakan perihal nasib rumah-tangga Rasulullah Saw, termasuk opsi perceraian.

Sebelum berlanjut lebih jauh, Rasulullah Saw mendatangi Aisyah Ra di rumah Abu Bakar Ra. Terjadilah dialog antara Abu Bakar Ra, istri Abu Bakar, Aisyah Ra, dan Rasulullah Saw. Intinya, usaha mencari kejelasan atas peristiwa yang dialami Aisyah Ra.

Tak lama setelah dialog itu, saat Rasulullah Saw masih berada di rumah Abu Bakar Ra, turunlah serangkaian ayat yaitu QS An-Nur [24]: 11-26. “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (QS An-Nur [24]: 11). ...... Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui (QS An-Nur [24]: 19). .......

Selesai serangkaian ayat itu turun, inilah kalimat pertama Rasulullah Saw: “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu.” 

            Kisah di atas memperlihatkan dengan jelas betapa sebuah berita bohong yang tersebar, sedemikian besar pengaruh negatifnya. Tak hanya membuat sang korban menderita tekanan bathin yang luar biasa, tetapi bahkan sebuah rumah-tangga terancam retak.

Inti hoax adalah bohong dan kita dilarang melakukannya. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS An-Nahl [16]: 105).

Nabi Muhammad Saw memasukkan perilaku bohong sebagai salah satu ciri orang munafik. “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga. Pertama, jika berkata-kata ia bohong atau dusta. Kedua, bila berjanji ia mengingkari. Ketiga, saat diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya (HR Bukhari dan Muslim).

Hindari Celaka

Alhasil, jangan sekali-kali berbohong. “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” (QS Adz-Dzaariaat [51]: 10). Jangan sekali-kali menebar hoax. “Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” (QS Al-Jaatsiyah [45]: 7).

Alhasil, selalulah menjadi pribadi takwa yaitu orang yang senantiasa berhati-hati. Jangan menjadi penyebar hoax dan apalagi pembuatnya. [] (Oleh M. Anwar Djaelani)

 

 

0 Komentar

Leave a comment